25 Siswa SD di Tasikmalaya Tabah Belajar di Tengah Fasilitas Sekolah Lapuk

0
Keterbatasan Fasilitas Sekolah

Potret pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya memang beragam. Masih ada juga yang memprihatinkan.

TASIKMU.COM — 25 orang SD di Kabupaten Tasikmalaya harus tabah belajar dalam kondisi memprihatinkan. Berdesak-desakan, tanpa papan tulis modern, bangku seadanya; bahkan bangunan tempat bernaungnya pun berupa kayu-kayu dan bambu lapuk.

Mereka tercatat sebagai siswa kelas jauh SDN Kubangsari. Terletak di Kampung Manglid, Dusun Mekarjaya, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju. Lokasinya memang tersembunyi di balik perbukitan.

Sebanyak 25 siswa itu baru kelas 1 dan kelas 2 SD. Kelas 1 sebanyak sembilan orang. Sisanya, 16 orang kelas 2. Mereka menempati bangunan panggung hasil swadaya masyarakat dan pemerintah desa, berukuran 5×4 meter.

Sekalipun siswa tercatat dalam dua rombongan belajar berbeda, tetapi mereka tidak bisa belajar terpisah sesuai kelas masing-masing. Bangunannya terlalu sempit jika disekat. Parahnya lagi jika hujan, mereka bisa basah oleh air hujan karena atap “kelas” bocor di sana-sini.

“Kondisinya memang jauh dari layak. Idealnya dan ini harapan kami segera ada pembangunan dua ruang kelas yang permanen. Anak-anak berhak belajar dengan nyaman,” Epi, seorang guru yang tiga tahun mengabdi di sana, berharap.

Ya, gurunya memang cuma dua orang. Epi termasuk guru kelas. Statusnya masih Sukwan. Satunya lagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

Di Kampung Manglid ini, siswa hanya belajar selama dua tahun. Tatkala naik ke kelas 3, mereka harus pindah ke sekolah induk, SDN Kubangsari. Lumayan jauh. Berjarak sekitar 2 kilometer.

Awal Mula Ada Kelas Jauh

Kelas jauh SDN Kubangsari bukan tanpa latar belakang. Sebab paling utama adalah krisis pendidikan yang serius di sana. Terutama di Kampung Sadot. Penduduknya hampir total buta huruf, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Mereka memang tidak mengenyam pendidikan formal. Toh aksesnya terisolasi. Anak-anak tak mampu menempuh jarak 3 kilometer setiap hari, pulang-pergi total 6 kilometer. Belum lagi medannya berupa bukit, lembah, persawahan, bahkan menyeberangi sungai.

Mungkin secara fisik anak-anak bisa saja berjalan sejauh itu. Tapi para orang tua tidak sampai hati. Akhirnya memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya.

Atas dasar kondisi itulah pemerintah daerah dan pemerintah desa setempat bersepakat mendirikan kelas jauh pada tahun 2016. Baru terealisasi setahun kemudian, 2027. Dengan segala keterbatasan.

“Dulu anggaran tanahnya dari kas desa dan urunan warga. Untuk bangunannya, beli rumah panggung bekas warga. Setelah dibongkar lalu bahannya dialihkan dan jadilah bangunan kelas ini,” kata Kepala Desa Kertaraharja, Agus.

Alhasil, usia bangunan kelas tersebut hampir satu dekade. Daya tahan kayu dan bambu sudah berkurang, cenderung membahayakan keselamatan para siswa. Pihak desa dan warga berharap ada sentuhan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.

“Dulu ada harapan waktu Bupati Pak Uu Ruzhanul Ulum berjanji akan membangunkan gedung permanen. Syaratnya pemerintah desa menyediakan lahannya. Lahannya sudah ada hasil swadaya, tapi janji sampai berkali-kali ganti bupati juga tinggal janji,” tandas Agus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *