Oplus_16908288

Oplus_16908288

Oleh:

Rony Mardyana

(Ditulis Berdasarkan Pengalaman Interaksi dan Sudut Pandang Pribadi)

 

Medio (pra & pasca) Covid bagi saya merupakan interaksi secara intens dengan seorang (Ustadz) Yusef Rafiqi. Kedekatan yang terjalin bukan secara emosional, melainkan karena kesepakatan secara rasional. Momen pertemuan pun tidak hanya terjadi di ruang formal dan pengajian, melainkan terjadi di tempat kopi &/ perpustakaan.

 

Ada pola dan warisan yang tersirat dari pengalaman interaksi tersebut, yaitu “orkestrasi”. Seni orkestrasi ini yang berarti melakukan suatu perencanaan atau pengaturan untuk suatu keadaan, terlebih sebagai suatu gerakan kelompok (khususnya dalam konteks ini sebagai warga Persyarikatan).

 

Kacamata Sebagai Individu

 

Sebagai seorang orkestra dalam ideologi, beliau lebih berperan sebagai “pelatih pikiran”. Bak seorang pelatih olahraga yang menyuruh kita agar menggerakkan otot dan tulang sehingga bisa menahan ataupun melempar suatu beban, maka beliau selalu menyuruh untuk terbuka dalam pikiran dan perdebatan. Dengan terbuka mengakses kepada setiap yang berbeda, tujuannya bisa rileks terhadap perbedaan penerimaan ideologi/pikiran.

 

Maka beliau secara fasih bisa menafsirkan pemikiran seorang Jean-Paul Sartre, disaat yang bersamaan beliau bisa menjelaskan pemikiran seorang Muhammad Abid Al-Jabiri.

 

Fleksibilitas dari keterbukaan terhadap pemahaman ideologi tersebut bisa membuat beliau membawa tafsir PHIWM dalam konteks akademis / kemahasiswaan.

 

Beliau bisa diskusi secara filosofis sampai larut malam sambil menikmati kopi, namun –sejak sewindu lalu– saya mendengar beliau selalu bangun shalat malam pada dini hari. Hari ini berita itu pun terkonfirmasi. Abstraksi ideologi berjalan, aspek religi istiqomah dilakukan. (InsyaAllah husnul khatimah)

 

Kacamata Sebagai Kader Persyarikatan

 

Saat akses terhadap hal yang berbeda dibuka, selanjutnya tindakan prinsipil pun dipegang. Pemikiran Barat bahkan anti-Islam dibaca, namun nilai-nilai doktrinal Kemuhammadiyahan komitmen dilaksanakan. Jejak digital dan dakwah beliau hari ini dapat dilihat apalagi saat Muhammadiyah berbeda dengan khalayak umum.

 

Kegiatan ideologis yang mengkaji dan mendalami suatu berjalan, namun ikhtiar teknis terhadap kebermanfaatan Persyarikatan selalu dilakukan. Ada momen ketika beliau berpikir bagaimana meningkatkan subscriber, membuat timeline postingan, atau mencoba relevan dalam dunia digital. Jejak digital itu kita bisa lihat hari ini dalam vlog di akun YouTube tasikmu.

 

Ibu-ibu dan Bapak-bapak di pengajian ahad, murid/siswa di AUM, kader muda di ortom, ataupun para mahasiswa di kampus, pasti bisa bersaksi terhadap beragam kebaikan yang dilakukan beliau.

 

Namun legacy dari beliau saat ini (yang saya lihat) adalah tentang pentingnya sebuah “orkestrasi”, khususnya dalam gerakan Persyarikatan Muhammadiyah. Entah dalam hal ideologi, pemberdayaan sosial, wirausaha, akademis, dakwah keumatan, politik kebangsaan, kaderisasi, semua butuh orkestra sehingga simfoni kader dan ideologi Muhammadiyah bisa selaras dengan zaman.

Dan tulisan pendek ini pun adalah bagian kecil dari “orkestrasi ideologi” itu sendiri.

Allahummagfirlahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fu’anhu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *