Wabup Tasik Ingatkan Efek Domino Kekeringan: Dari Gagal Panen Hingga Longsor

0
Efek Domino Kekeringan

Wabup Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi mengingatkan jajarannya untuk waspada penuh terhadap efek domino kekeringan: kemarau gagal panen, hujan terjadi longsor. (Foto: Istimewa)

TASIKMU.COM — Wakil Bupati Tasikmalaya Asep Sopari Al Ayubi menegaskan penanganan kekeringan tidak boleh berhenti di pembagian air bersih. Ia meminta semua pihak mewaspadai efek domino yang bisa muncul, mulai dari gagal panen hingga potensi longsor saat musim hujan tiba.

Penegasan itu Asep Sopari sampaikan saat memimpin Rapat Koordinasi Mitigasi Dampak Kekeringan di Setda, Jumat (17/7/2026). Hadir dalam rapat tersebut Asisten Pemerintahan, Rubi Azhara; Kapala Pelaksana BPBD, Roni; perwakilan SKPD; para camat; dan unsur terkait lainnya.

“Kami kumpulkan lintas sektor untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah ancaman krisis air. Ini kebutuhan krusial karena menyangkut hajat orang banyak,” kata Asep Sopari.

Pemkab Tasikmalaya sebelumnya sudah menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla. Berlaku sejak 1 Juli sampai 30 September 2026.

Baca Juga: Kekeringan Meluas, BPBD Kabupaten Tasik Imbau Warga Waspada

Menurut Asep Sopari, kekeringan di Indonesia memang siklus tahunan. Tapi jika penanganannya tidak serius, dampaknya bisa meluas ke gejolak sosial dan ekonomi.

Karena itu politikus Partai Gerindra ini meminta BPBD dan Dinas Pertanian agar menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas. Pompa-pompa air di wilayah rawan harus segera diaktifkan. Jika dalam kondisi mendesak, pompa itu juga bisa digunakan untuk kebutuhan MCK warga.

“Sektor pertanian harus jadi utama. Ini menyangkut ketahanan pangan kita. Jangan sampai sawah gagal panen massal,” tambah Asep Sopari.

Lebih dari itu, Asep mengingatkan agar jangan lengah dengan kondisi tanah yang mengering dan retak saat ini. Ia menyebut tanah kering bisa menjadi “bom waktu” ketika hujan datang.

“Tanah yang retak itu rawan longsor, apalagi di daerah lereng. Kekeringan hari ini bisa berubah jadi bencana lain beberapa bulan ke depan,” tegas Asep Sopari.

Asep juga mengajak semua pihak merenungi pola cuaca yang semakin ekstrem. Di satu sisi hujan berlangsung panjang, di sisi lain kemarau bisa sangat parah hanya dalam sebulan.

“Sepertinya ada yang keliru dan harus kita perbaiki bersama. Kuncinya ada di konservasi alam. Air hujan harus bisa meresap dan tersimpan di dalam tanah supaya jadi cadangan saat kemarau,” tandas Asep Sopari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *