Duh Kampung Naga Longsor, Nyaris Saja Menelan Banyak Korban
Tangkapan layar longsoran besar yang menimpa Kampung Naga. Hektaran sawah tertimbun, tidak ada korban jiwa. (Istimewa)
TASIKMU.COM — Sore itu langit Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya; mendung. Tak ada angin. Tapi pohon kelapa dan pohon pete di tepi sawah tiba-tiba bergoyang pelan.
Di satu titik, Diki (28) sedang ngurek (mancing belut) di pematang untuk lauk malam. Ia berhenti. Matanya menatap aneh ke atas tebing.
“Awalnya saya lihat pepohonan kaya pohon kelapa dan pohon pete bergoyang-goyang padahal tidak ada angin besar,” kata Diki, Minggu (19/7/2026).
Firasat buruk muncul. Diki buru-buru mengeluarkan HP. Sejurus kemudian ia merekam.
Belum genap 10 detik, tampak tanah bergerak. Mula-mula pelan. Kemudian semakin cepat. Gemuruh mengiringi, bersama pohon-pohon besar tumbang satu per satu.
Dari arah pemukiman terdengar suara seorang bapak melantunkan salawat dengan suara bergetar. Lalu terdengar teriakan seorang ibu, “Anak! Anak saya di sawah!”
Detik itu juga tebing setinggi belasan meter ambruk. Lumpur, batu, dan pohon menggelinding menghantam 2,5 hektar sawah di bawahnya. 35 petak milik delapan warga Kampung Naga, habis tertutup.
45 Menit yang Menyelamatkan Nyawa
Andai longsor itu terjadi 45 menit lebih cepat, ceritanya bisa lain.
Abah Otoy, Kepala Dusun Kampung Naga, masih ingat jelas. Pukul 16.00, di sawah yang kini jadi kubangan lumpur itu masih ramai.
“Di situ banyak ibu-ibu yang sedang tandur, ngabérak (menabur pupuk, Red.). Saya sendiri sedang betulin air yang ke sawah. Bahkan ada anak-anak yang sedang ngurek cari belut,” kata Abah Otoy (52).
Tapi azan Asar berkumandang. Satu per satu warga beres-beres. Pulang ke rumah untuk salat.
“Termasuk saya. Baru keluar masjid, mau jalan pulang,” tambah Abah Otoy.
Pukul 16.45. Gemuruh, teriakan dan warga berhamburan lagi ke arah sawah. Yang mereka lihat hanya hamparan tanah baru bercampur batang pohon tumbang.
Tak ada orang. Tak ada korban jiwa. Hanya padi yang baru ditanam siang itu, ikut terkubur.
“Alhamdulillah. Kalau telat lima menit saja, mungkin banyak yang tertimbun,” Abah Otoy penuh syukur. Nadanya lirih.
Tanda Alam yang Tak Ada Angin
Video rekaman Diki kini viral di grup WhatsApp warga. Dalam video 01.12 detik itu terlihat jelas: tanah bergerak, pohon tumbang, dan suara panik warga.
Kini, 35 petak sawah itu jadi sungai lumpur. Padi yang baru tumbuh beberapa senti, mati.
