Nalar

Muhammadiyah, Negara dan Covid-19

Oleh Zaki Nugraha

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta

 

PANDEMI telah menunjukkan sejauh mana literasi manusia terhadap sains. Polemik antara sains dan agama bukanlah hal baru. Pola pandang yang melihat pertentangan atau saling keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan agama begitu kentara.

Kini efek pandemi Covid-19 semakin membuka polemik tersebut, atau bahkan membuka pola pandang manusia terhadap sains. Bahwa pandemi telah membuka seluruh kapasitas dan kapabilitas kemampuan manusia. Dalam struktur yang lebih besar, pandemi menunjukkan resiliensi dan kapasitas negara dalam berbagai sektor.

Pandemi yang merupakan basis saintifik dan ilmiah, sering kali mendapat resistensi berdasarkan sifat yang teologis dan ilahiah. Dimulai dari skala individu yang terlihat terbongkarnya pandangan hidup dan orientasi. Kemudian kepatuhan dan komitmen negara terhadap para ahli kesehatan.

Dalam situasi yang terjadi saat ini, kepatuhan terhadap para ahli sains/dokter harus diutamakan. Bahwa kepakaran harus dilihat dari ahlinya. Namun faktor emosi dan sensasi sering kali menjadi penghalang. Apalagi penyebaran teori konspirasi semakin menambah persoalan. Yang lebih berbahaya manakala masyarakat umum ataupun negara mengabaikan sains. Memang benar bahwa sains bekerja secara objektif dan ilmiah. Ia bekerja berdasarkan fakta, bukan atas prasangka.

Nasihat Carl Sagan; sains bekerja secara datar, objektif, dan tidak menarik. Untuk itu diperlukan suatu yang mengikat dan memikat. Bukan untuk mengubah hasil observasi kebenaran ilmiah, melainkan untuk mengajak agar perasaan kolektif masyarakat beserta komitmen negara bisa percaya sepenuhnya terhadap kebenaran objektif. Muhammadiyah muncul sebagai suatu harapan, karena menjembatani sensasi massa serta komitmen negara berdasarkan sains dan pelayanan sosial.

Teori Konspirasi, Sensasi Massa dan Kuasa Negara

Memang kita hidup dalam pandemi berdasarkan dunia fakta. Namun lingkungan tempat kita berada pun tak akan bisa lari dari dunia makna. Bahwa salah satu keunikan sapiens yaitu adanya kepercayaan terhadap mitos. Dalam perspektif teologis, kita menyebutnya sebagai suatu keimanan atau kepercayaan. Dalam kacamata negara, kita mempunyai ideologi politik. Itu watak identitas bangsa Indonesia, beragama dan berwarga negara.

Kendati demikian kita tak bisa menyangkal bahwa resistensi terhadap sains selalu ada. Bahwa pandemi dilihat sebagai suatu konspirasi tidak bisa diabaikan. Atau aliran teologi yang melarang ketakutan terhadap virus dan lebih takut terhadap Tuhan. Bahwa seolah-olah patuh terhadap informasi ilmiah bertentangan dengan dimensi ilahiah. Dalam sudut pandang komunal hal itu efektif. Tidak berbahaya jika dipercayai oleh satu orang, tetapi berdampak secara sosial jika dilakukan oleh suatu kelompok.

Bahkan negara yang mempunyai sumber daya yang memadai, tidak bisa mengidentifikasi kebenara ilmiah dan mengaplikasikan dalam suatu kebijakan. Terlihat pascaawal mula kemunculan pandemi pun kita disuguhkan watak pejabat negara yang cenderung mengabaikan.

Dalam kegiatan sosial-keagamaan pembatasan rumah ibadah dipandang sebagai sebuah degradasi keimanan. Secara psikologis pola pandang ini memicu ketidakpercayaan akan pandemi. Ketika negara yang mempunyai otoritas kebijakan menganggap pandemi sebagai suatu candaan, serta beberapa kelompok masyarakat menganggap pandemi sebagai suatu konspirasi, maka diperlukan suatu civil society untuk mengedukasi. Membantu pemerintah, mengedukasi masyarakat. Disinilah peran Muhammadiyah muncul.

Objektivitas dan Rasionalitas Muhammadiyah

Keberadaan sains hadir untuk menggambarkan realitas. Bahwa fakta-fakta yang disusun secara sistematis memuat seperangkat ilmu pengetahuan. Kualifikasi sains bukan berdasarkan prasangka, tetapi melalui observasi dan realita. Kini pandemi pun masuk dalam ranah sains, virus bisa masuk karena adanya inang, tanpa melihat orientasi ideologi individu ataupun karena adanya kepentingan.

Karena sains objektif pula, maka pandemi–yang termasuk ranah sains–bisa masuk pada semua manusia. Maka penyederhanaan pencegahannya dilakukan melalui jaga jarak, mencuci tangan serta memakai masker. Itu rekomendasi dari saintis yang didasarkan atas kajian. Kajian yang berbasis ilmiah ini pula bertujuan untuk meminimalisir penyebaran.

Implikasi dari adanya pandemi yang ilmiah adalah berbuat sesuai para pakar. Bahwa vaksinasi untuk menuju kekebalan bersama merupakan tujuan. Ataupun advokasi terhadap penyintas Covid-19 yang isoman dan dirawat harus terus berjalan. Di sini Muhammadiyah sudah berbuat. Tidak perlu posting foto menyumbang dua triliun, tapi kerja nyata dari relawan, amal usaha ataupun sumber daya lainnya menjadi pembuktian. Rasional menjadi acuan, pelayanan sosial terus berjalan.

Menuju Masyarakat Ilmu: Amal Beriman, Ilmu Berimun

Kini kita mengetahui bahwa hingga saat ini pandemi belum berakhir. Kompleksitas permasalahan dari pandemi bukan hanya persoalan medis dan ilmiah, melainkan bertambahnya permasalahan sosial. Bahwa sebagian kelompok yang denial terhadap keberadaan Covid-19 selalu ada, bahwa ketidakpatuhan terhadap prokes pencegahan penularan Covid-19 selalu mempunyai alasan.

Namun, kita tidak lantas pesimistis. Karena di sisi lain yang lebih besar kita melihat para pemuka agama yang menyosialisasikan pencegahan prokes Covid-19. Atau peran Muhammadiyah sendiri yang terlibat dalam pencegahan Covid-19. Baik berupa sosialisasi vaksin, pelayanan pasien penyintas Covid-19, ataupun rasionalisasi terhadap pembatasan kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak massa.

Cendekiawan Haidar Bagir dan Ulil Absar pun tak lupa menulis buku tentang “keilmiahan agama” dan “religiusnya sains”. Memang dalam kondisi pandemi hari ini kita harus sepenuhnya percaya terhadap ilmu pengetahuan. Sebagai mahluk sosial, perlu adanya ikatan kolektif yang bisa memotivasi emosi dan pikiran. Itu tercipta hari ini dengan adanya agamawan, budayawan yang ikut berkampanye dalam pencegahan penyebaran Covid-19 ini. Terlihat beberapa pernyataan dari Haedar Nashir yang mengkampanyekan sikap berilmu, dan berkomitmen terhadap sains serta pengetahuan.

Fenomena ini semakin menyuratkan dan kita rasakan bahwa kepercayaan akan ilmu pengetahuan, tidak bertentangan dengan keagamaaan. Implikasinya adalah kesucian terhadap keimanan, siginifkan dan selaras dengan kekuatan imun. Di sinilah letak harapan dan optimisme untuk keluar dari pandemi itu muncul. Karena tidak melepaskan dari dimensi keimanan dan komitmen terhadap pengetahuan pula lah Muhammadiyah terus membantu masyarakat dan negara.

Citizen Journalism

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tren

Laman ini didedikasikan untuk warga net mengedepankan kedekatan. Terbuka untuk terlibat menuangkan gagasan ke dalam tulisan dan mewartakan aktivitas lapangan sejalan dengan kaidah jurnalistik.

SIlakan bergabung.

Kontak kami

Alamat: Jl. Kalawagar Singaparna Tasikmalaya
Telefon: (+62) 01234-5678
Email: redaksi@tasikmu.com

Copyright © 2019 TASIKMU | MVP | powered by Wordpress.

Ke Atas